Rabu, 18 Maret 2015

Sejarah di balik ketegangan Korea Utara dan Korea Selatan: kilas balik

Sejarah di balik ketegangan Korea Utara dan Korea Selatan: kilas balik


Sebelum Semenanjung Korea dianeksasi oleh Jepang pada tahun 1910, wilayah tersebut dikuasai oleh serangkaian kerajaan yang didirikan pendatang yang kebanyakan berasal dari Cina. Apa saja yang telah terjadi di balik berbagai berita mengenai Korea Utara saat ini sejak tahun 1910 itu? Radio Australia melihat kembali berbagai kejadian sejarah penting di semenanjung tersebut.

Seperti yang terjadi pada banyak negara lainnya, termasuk Indonesia, akhir Perang Dunia II menggoreskan berbagai perbatasan baru. Di Korea, Uni Soviet dan Amerika Serikat membelah Korea menjadi dua, yang kemudian secara resmi membentuk Rakyat Demokratik Republik Korea Utara dan Republik Korea, dua sisi Korea yang kini terbelah di 38 derajat lintang utara –dan ini kenapa perbatasan antara kedua negara sering disebut sebagai ‘38th parallel’.  
Dalam dua tahun berikutnya, ketegangan antara kedua Korea ini terus meningkat. Pada tanggal 25 Juni 1950, militer Korea Utara menyeberangi perbatasan dan melakukan invasi atas Korea Selatan. Tindakan ini memulai Perang Korea yang berlangsung selama tiga tahun dan memakan korban sekitar dua juta nyawa. Gencatan senjata terjadi pada tahun 1953.
Yang menarik, karena perjanjian perdamaian tidak pernah ditanda tangani, sampai sekarang kedua negara tersebut secara ‘resmi’ masih dalam kondisi perang.
Sejak 1948, hubungan antara Korea Utara dan Korea Selatan telah didominasi oleh pertanyaan tentang reunifikasi atau penyatuan kembali . Ketika Presiden Korea Selatan, Kim Dae Jung, mulai berkuasa pada tahun 1998 ia mengumumkan ‘Sunshine Policy’ , sebuah kebijakan yang bertujuan meningkatkan interaksi antara kedua negara.
Pada tahun 1994, kematian Kim Il-Sung membawa Kim Jong-Il  menggantikan ayahnya sebagai pemimpin baru Korea Utara.  Pada tahun yang sama, Korea Utara setuju untuk menghentikan program nuklirnya dan memulai beberapa hubungan kerja sama dengan Amerika Serikat.
Pelunakan hubungan ini juga terlihat pada tanggal 13-15 Juni tahun 2000, ketika pertemuan tingkat tinggi antar Korea diadakan untuk pertama kalinya.
‘Sunshine Policy’ mendapatkan ujian pertama pada bulan Oktober 2002 ketika AS mengumumkan Korea Utara telah kembali memulai program rahasia senjata nuklir. Hal itu menyulut ketegangan antara AS dan Korea Selatan dengan Korea Utara.
Dalam pidato pelantikan Presiden Korea Selatan Roh Moo Hyun tanggal 25 Februari 2003, dia berjanji akan membangun Korea Selatan menjadi ‘pusat Asia Timur Laut', untuk meningkatkan hubungan antar Korea dan memimpin Korea Selatan menuju 'era perdamaian dan kemakmuran'.
Pertemuan Tingkat Tinggi antar Korea kembali diselenggarakan pada tanggal 2–4 Oktober 2007 di Pyongyang. Kim Jong-Il memberikan hadiah kepada Presiden Roh Moo-Hyun berupa 4 ton ‘songi’ (jamur matsutake) senilai 2,6 juta dollar Amerika.  Kedua kepala negara mendiskusikan tentang kemajuan hubungan antara Korea Utara dan Korea Selatan, perdamaian di Semenanjung Korea dan kesejahteraan rakyat Korea dan penyatuan Korea.
Menyusul ketegangan yang terus terjadi antara dua negara karena Korea Utara terus melakukan uji coba nuklir, dan peluncuran artileri dari Korea Utara yang menyebabkan kematian dua warga sipil dan dua anggota militer Korea Selatan, pada November 2010, Kementrian Penyatuan Korea Selatan secara resmi menyatakan bahwa ‘Sunshine Policy’ gagal, dan membawa kepada berakhirnya kebijakan tersebut.
Pada tanggal 17 Desember 2011, Kin Jong-Il meninggal setelah menderita serangan jantung, dan putranya, Kim Jong-Un, diumumkan sebagai pengganti.
Tanggal 1 Januari 2013, Kim Jong-Un menyampaikan pesan tahun baru melalui  siaran televisi, menyerukan untuk membina hubungan lebih baik dengan Korea Selatan.
Tapi pada bulan Februari 2013, Korea Utara melakukan uji coba nuklir ke-3, yang dikatakan dua kali lebih besar dibandingkan uji coba pada tahun 2009.
Dan pada April 2013, Korea Utara mengatakan bahwa mereka akan memulai fasilitas nuklir utamanya di Yongbyon, yang dikatakan akan meningkatkan kekuatan nuklir Korea Utara secara kualitas maupun kuantitas.

0 komentar:

Posting Komentar